![]() |
|
|
|
Friday, February 20, 2009
PASUKAN BUMI
Terus saya bertemu dengan Toto, Rifqi, dan Wayan, sebagai anggota Pasukan Bumi yang berdomisili di Jogja. Konsep awal mereka, mereka mempunyai beberapa seni rupa berjenis 'objek' dan beberapa rancangan karya seni rupa yang di luar kebiasaan mereka. Dengan materi ini, mereka ingin mengerjakan sebuah projek yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu kami membicarakan kemungkinan mereka membuat projek di luar ruang. Tentu saja, projek ini akan bersinggungan dengan ruang-ruang terbuka yang diakses oleh siapa saja (ruang publik). Dengan ini, materi yang akan mereka bawa, akan mengalami interaksi dan respon apapun dari para pengguna ruang terbuka yang lain, seperti pejalan kaki, pengendara motor, dan sebagainya. Ini yang kemudian kami diskusikan. Saya melihat tidak ada kaitam langsung projek ini dengan isu-isu lingkungan kontemporer, seperti global warming dan semacamnya, tapi ya tetap saja ada urusannya dengan lingkungan. Mereka mempunyai cara sendiri untuk melihat isu lingkungan dengan kacamata mereka sebagai anak muda yang tumbuh dan bekerja di Kami lalu melihat bersama materi karya-karya yang sudah ada. Kelompok ini unik karena mereka hanya berdiskusi via online dengan para teman-temannya di Bandung. Dan konon, sebelumnya mereka belum bertatap muka secara langsung. Tentunya dengan kondisi seperti itu, karakter kelompok ini tidak bisa disatukan begitu saja dengan gagasan yang tertentu. Setelah cukup lama berdiskusi, saya melihat ada satu hal yang sama yang coba mereka utarakan dalam bentuk-bentuk karya mereka. Yaitu penggunaan benda-benda domestik ataupun citra-citranya. Dari benda-benda yang biasanya berada di dekat kita secara pribadi, seperti remote kontrol, bath tub, lemari es, gaun, telepon, dan bulu, akan dibawa ke ruang publik. Ide seseprti itu pulalah yang kebanyakan lagi mereka asyiki saat ini. Jadilah sebuah projek yang dinamai “Invasi Objek Privat”. Projek ini dilangsungkan di Jogja dan juga Proses membawa karya ke publik menjadi cukup 'aneh' untuk sebuah acara seni rupa luar ruang. Mereka tidak dalam tatacara mengerjakan patung publik (walaupun kebanyakan karya mereka tiga dimensional). Apalagi kalau dibandingkan dengan patung-patung pahlawan yang menghiasi tempat-tempat utama di kota-kota besar kita. Tidak ada pretensi yang semacam itu, misalnya monumental atau secara gigantis menyentak padangan mata pengguna jalan. Karya-karya mereka berupa objek-objek kecil dan sedang (yang terbesar paling-paling dua meteran), dan secara bobot sangat ringan dan kadang-kadang membutuhkan interaksi dengan penggunanya untuk dikenali keberadaannya. Ini yang kemudian sempat dikhawatirkan oleh kurator seni Suwarno Wisetrotomo yang menjadi pembuka launching projek ini. Beliau mengkhawatirkan ke'efektif'an karya-karya ini ketika berada dalam luar ruang (atau ruang publik). Jangan sampai karya-karya itu hanya memindahkan sebuah karya dari dalam galeri ke luar ruangan, demikian wejangannya kala itu. Dari sinilah, justru pandangan itu diabaikan sama sekali oleh anak-anak muda ini. Mereka bukanlah sekelompok seniman yang concern secara khusus pada seni ruang publik. Di karya-karya ini, mereka melakukan eksperimen menghadirkan karya dalam habitat yang tidak sewajarnya, misalnya membawa pesawat telepon ke sebuah lapangan. Atau memakai pakaian berbentuk remote kontrol di trotoar. Atau sebentuk patung burung onta berkaki manusia di alun-alun. Kemudian yang mereka kejar adalah reaksi dan respon dari masyarakat lain pengguna ruang-ruang itu. Mereka tidak mempersolkan secara serius problem display sebagaimana karya-karya luar ruang konvensional. Apakah nyambung dengan lingkungan sekitar atau tidak itu nomer kesekian. Bagi kelompok ini, karya seni menjadi ibarat manusia pengguna ruang publik, yang bisa masuk dan keluar dari ruang itu dengan sesukanya, walaupun ada syarat-syarat dan aturan-aturan tertentu di masing-masing ruang. (salah satunya mereka alami ketika akan membawa sebuah patungnya ke dalam bus TransJogja, mereka mendapat larangan dari sopir bus tersebut). Mereka menenteng karya-karya itu ke beberapa titik di seantero Projek pameran ini adalah salah satu rangkaian kelanjutan dari seluruh projek Invasi Objek Privat. Mereka kemudian mengembalikan karya-karya itu ke 'kandangn'ya di sebuah galeri seni (Roomate). Projek pameran ini sekaligus report dan dokumentasi kerja lapangan mereka dalam sebuah presentasi seni rupa. Untuk itu, dalam pameran ini mereka menyertakan tinggalan jejak dari apa yang mereka bawa ke ruang publik. Dokumentasi foto, lukisan, jejak-jejak karya, bekas-bekas respon publik, mereka pajang dalam ruang galeri. Di samping itu, karya-karya baru juga ditampilkan sebagai laporan apa yang kemudian mereka rasakan dan alami ketika mereka menghadirkan karya-karya mereka di luar ruang.
Labels: Kuratorial
Privat X Publik, Personal X Publik
Semangat untuk mendekatkan jarak antara seni dan masyarakat sudah dimulai sejak tahun 1960an di Amerika. Semangat ini dipicu oleh gerakan postmodern pada saat itu yang merupakan sebuah manifestasi kritik terhadap apa yang selama ini dipercayai dalam modernisme atau lebih spesifik seni modern yaitu seni yang otonom dan memiliki nilai orisinalitas. Seni modern akhirnya dinilai sebagai seni yang elite yang terpisah dari masyarakat. Seniman diposisikan sebagai seseorang yang seolah terpisah dari tanggung jawab terhadap lingkungan masyarakatnya. Satu kecenderungan yang kuat pada tahun-tahun tersebut adalah dekonstruksi terhadap apa yang selama ini dipercayai oleh modernisme. Berkembang semacam semangat untuk mendekatkan atau menghilangkan jarak antara apa yang disebut ‘fine’ – sesuatu yang halus, tinggi, merupakan konsumsi intelektual hanya bagi beberapa orang dari golongan tertentu saja, dengan apa yang disebut ‘vernacular’ atau sesuatu yang biasa, hal yang sehari-hari. Sebuah semangat untuk menghilangkan jarak antara seni yang ‘tinggi’ dan seni yang ‘rendah’, untuk menolak bahwa seni memiliki nilai kebenaran yang intrinsik dan substansial, bahwa keindahan adalah sesuatu yang esensial bagi seni. Postmodernisme percaya bahwa seni memiliki nilainya karena sebuah konstruksi. Ia dapat bernilai bergantung pada bagaimana dan dimana ia ditempatkan. Salah satu yang karya yang cukup fenomenal pada saat itu adalah “Brillo Box” karya Andy Warhol, dibuat dan dipamerkan tahun 1964. “Brillo Box” merupakan apropriasi bentuk kemasan produk alat pembersih yang dibuat untuk membersihkan perangkat aluminium. Terbuat dari plywood dengan logo “Brillo” yang dicetak dengan teknik silkscreen. “Brillo” sendiri merupakan nama dari produk tersebut. Tahun tersebut sulit bagi kebanyakan orang untuk menerima itu sebagai sebuah karya seni. Karya ini menjadi semacam pintu bagi pemikiran-pemikiran lebih lanjut tentang tentang makna dan nilai sebuah karya seni, bagaimana sebuah objek dapat memiliki status karya seni (work of art). Pop art saat itu telah mencairkan batasan tentang apa yang bisa diterima sebagai benda seni dan non-seni yang dalam wacana seni rupa kontemporer dikenal dengan istilah “anything goes”. Dalam seni rupa kontemporer atau bisa dikatakan seni yang ada saat ini pada masa sekarang, merupakan sebuah objek kontingen. Artinya adalah dia dapat memiliki makna berdasarkan sebuah konstruksi tertentu. Maksud dari kontingen dapat diartikan bahwa seni baik itu berupa aktivitas atau objek (work of art) dapat mengandung pesan yang tersembunyi atau terselubung (hidden messages) yang membutuhkan sebuah penjelasan atau mediasi. Dalam berbagai bentuk mediasi inilah kita mengenal istilah strategi berkesenian atau politik kesenian atau juga seni yang politis. Politis bukan hanya berarti bahwa seni dapat merepresentasikan isu sosial dan politik, tetapi bahwa seni menjadi sangat politis dalam konstruksi visual yang diciptakan didalamnya, sebuah politik visual. Maka seni menjadi bermakna jika diposisikan atau ditempatkan di dalam suatu kondisi yang tepat, dalam ruang waktu tertentu, dan termasuk juga berhadapan dengan publik yang tepat yaitu publik seni itu sendiri. Dengan demikian menilai dan memaknai seni menuntut perspektif dan cara pandang lain diluar praktek seni itu sendiri. Makna atau nilai dalam seni (value of art) dalam tingkat tertentu dapat menjadi relatif tetapi bukan berarti tidak memiliki nilai. Menilai keterbacaan teks dalam sebuah karya seni dihadapan publik, bergantung pada konsep yang kita sepakati bersama tentang apakah dan siapakah sebenarnya publik seni. Jika kita menyinggung istilah ‘publik’ dari perspektif yang sangat umum dalam membicarakan seni, saya yakin kita akan dengan sangat mudah kehilangan konteks pembicaraan. ‘Publik’ sering kali adalah sesuatu yang tidak jelas batasannya sama hal nya seperti ketika kita mendengar kata masyarakat. Masyarakat atau publik bisa siapapun dan dimana pun, bahkan dapat terlepas dari konteks ruang dan waktu. Dalam pandangan saya ini sering kali menjadi jebakan ketika seniman atau praktisi seni berusaha untuk menyinggung pesoalan bagaimana seni dapat menjadi dekat dan tidak berjarak dengan masyarakat. Seringkali kita lupa memperhitungkan siapakah masyarakatnya apabila kita berbicara mengenai sebuah praktek seni yang tidak berjarak dengan masyarakat atau publik. Apalagi jika karya seni tersebut dipercaya memiliki pesan bagi masyarakat. Publik seni dalam hemat saya adalah suatu kelompok yang terbatas tetapi juga terbuka. Terbatas dalam arti bahwa publik seni adalah orang-orang yang telah terlebih dulu memiliki sebuah prakonsepsi atau prakondisi tentang praktek seni itu sendiri, yang tentunya ada dalam berbagai tingkatan. Terbuka, berarti juga bahwa siapapun tanpa terbatas dapat mengapresiasi karya seni atau bahkan menyerap semua kandungan makna yang diikhtiarkan oleh seniman atau praktisinya. Sebuah platform dapat saya katakan, dan sebuah strategi haruslah terlebih dahulu dibangun dan dirancang sebelum pesan dalam karya seni tersebut di-mediasi-kan. Jika tidak, maka seni tetap tidak dapat sepenuhnya menjadi tidak berjarak dengan masyarakat. Ia sebagai sebuah praktek akan tetap memiliki wilayah yang berjarak dengan publik. Hal ini berlaku tentunya pada karya-karya yang besifat ‘eksperimental’ dengan metode dan modus yang tidak lazim dalam konsepsi seni yang sudah mapan. Berbeda halnya ketika kita berhadapan dengan lukisan atau patung tentunya yang sudah lebih dulu dikenal secara mapan sebagai bentuk kesenian. Tulisan ini dibuat meresponi tema yang digagas oleh sekelompok perupa muda ini, yaitu tentang bagaimana ruang publik menginvasi ruang privat, dan bagaimana bagi mereka seni dapat menjadi sebuah ‘serangan’ balik untuk menginvasi ruang publik tersebut. Sebuah gagasan yang dapat di elaborasi lebih jauh menjadi sebuah proyek kesenian yang menarik, walaupun mereka belum secara spesifik dan tegas menentukan ruang publik seperti apa yang dianggap menginvasi tersebut. Mengingat dewasa ini kita menghadapi sebuah pengertian yang relatif bahkan semu tentang konsep ruang, sesuatu yang privat dan publik. Dalam suatu masyarakat dimana teknologi informasi merupakan nafas yang menghidupkan dinamika Simulasi yang mengaburkan pengertian kita akan apa yang nyata dan fantasi, tentang apa itu privat dan publik. Tampak seolah tidak ada lagi perbedaan yang tegas antara privat dan publik. Sesuatu yang bersifat privat atau pribadi bisa disaat yang bersamaan menjadi informasi publik. Kesadaran akan sesuatu yang privat atau personal dan publik sendiri merupakan kesadaran yang muncul dalam hidup orang-orang perkotaan baik itu disadari atau tidak. Kesadaran itu sendiri merefleksikan bagaimana individu dipisahkan dengan kelompok kolektif, subjek dengan objek. Sebuah alienasi dalam tingkat tertentu. Seni rupa kontemporer sebagai sebuah model representasi merupakan sebuah praktek yang plural. Pluralitas ini membuat seni menjadi sangat menarik karena kapasitasnya untuk dapat merepresentasikan berbagai persoalan hidup. Tetapi tetap hal ini disatu sisi menjadi sebuah tantangan bagi perupa. Ketika perupa dihadapkan dengan sebuah persoalan yang harus dipahami dan juga dengan strategi untuk mengeksekusi gagasan kesenian mereka. Dalam tahun-tahun terakhir seni rupa Persoalan yang diangkat melalui proyek pameran ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang menarik sebagai sebuah tema. Tetapi tetap hal ini bergantung pada bagaimana sikap setiap perupa mengeksekusi gagasannya masing-masing. Mencoba untuk menginterpretasi proyek seni ini, bagi saya masih tampak ada jarak yang cukup lebar antara individu perupa dengan persoalan yang dicermati. Jika memang yang ingin disasar adalah kesadaran akan biasnya pengertian tentang apa yang privat dan publik, pesoalan privat dan publik barangkali perlu dibuat sedikir lebih spesifik. Sehingga tanda-tanda yang pada akhirnya dikonstruksi dalam karya tampak terlihat naif, seolah merujuk kepada gagasan atau narasi personal. Tetapi gagasan untuk melakukan proyek seni ini di tempat umum untuk kemudian dipresentasikan dalam sebuah pameran merupakan sesuatu yang menarik. Dengan elaborasi lebih lanjut proyek ini dapat menjadi sebuah proyek site spesifik yang menarik yang jarang kita lihat dilakukan oleh perupa di Sebagai kesimpulan, berkaitan dengan praktek seni yang plural dimana seharusnya tidak ada jarak antara seni dan masyarakat, dimana apapun dapat menjadi seni dan direpresentasikan melalui seni, maka diperlukan sensibilitas seorang perupa yang kuat dalam memahami dua wilayah yaitu wilayah luar dimana terdapat persoalan dan wilayah dalam dimana perupa bergelut dengan media, startegi dan modus visual. Akhirnya adalah tantangan bagi seorang perupa untuk menjadi seorang observer yang cukup tajam dalam melakukan ‘riset’ untuk memahami persoalan secara mendalam, berikut juga tantangan untuk menemukan bahasa visualnya sendiri terutama saat ini setiap perupa dihadapkan dengan apa yang dapat disebut ‘fashion’ dalam seni rupa kontemporer. Albert Yonathan Setyawan, Labels: Kuratorial |