<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d4196416790633888123\x26blogName\x3dPasukan+Bumi\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://pasukanbumi.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://pasukanbumi.blogspot.com/\x26vt\x3d-736202431299083316', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
PASUKAN BUMI !

Friday, February 20, 2009
Andita Purnama

Manusia dapat menjadi khalifah di bumi ini sekaligus monster mengerikan penghancur semesta.Karya saya, sebuah makhluk yang terlahir dari sisi buruk manusia. Siap meneror seluruh penghuni bumi. Makhluk ini akan membayangi mimpi di setiap malam dan mengganggu kesibukan manusia. Karya ini memprovokasi manusia, bercermin dengan makhluk dari sisi buruknya sendiri.

Labels:


Dita Gambiro

Manusia (merasa) berkuasa atas bumi-Nya. Mereka tidak pernah merasa puas dalam ‘mengolah’ alam ini. Dimulai dari keserakahan manusia mengeruk kekayaan alam tanpa berfikir panjang yang lambat laun menyebabkan protesnya iklim, memanasnya suhu yang menenggelamkan pulau secara diam-diam dan tidak menentunya perlakuan alam. Suasana ini semakin diperburuk ketika manusia masih saja menebang paksa pohon-pohon dan memburu hewan-hewan di habitatnya.

Hewan, mungkin dianggap sebagai makhluk kelas 2 di dunia setelah manusia. Mereka hidup, bergerak, tetapi dianggap tidak mempunyai pemikiran yang mampu mengalahkan manusia. Mungkin hal tersebut yang membuat manusia merasa memiliki hidup para hewan. Contohnya dapat kita lihat ketika beberapa kelompok orang masih saja berburu binatang untuk hobi hingga semakin banyaknya ragam hewan yang diperdagangkan untuk peliharaan, tanpa rasa bersalah Dikalangan manusia, beberapa nama hewan ( anjing, babi, kampret, dsb) dianggap kasar dan kurang ajar. Dari situ kita dapat melihat pelecehan terhadap hewan terjadi dalam bentuk yang beragam. Manusia seperti hanya mencuri manfaat dari hewan-hewan. Memelihara karena ada maksudnya. Contoh: Induk kambing diambil susunya untuk manusia dan anak kambing diberi susu sapi dari botol dot. Penyu yang sudah hidup lebih tua dari kita diambil dagingnya, cangkangnya untuk hiasan dan telurnya diambil untuk sarapan manusia. Bulu macan, kucing,kulit ular, rubah dijadikan barang fashion yang mahal. Ular langka, orang utan, merak, macan dijual untuk peliharaan manusia, dikandangi di halaman rumahnya untuk sekedar ingin memiliki dan menikmatinya secara pribadi.

Ada yang lebih memilukan daripada hal diatas. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang ,dan parahnya dianggap sebagai hal yang biasa bagi sebagian besar manusia.

Manusia semakin berjarak dengan alamnya. Kehidupan metropolis , gemerlap dan penuh dengan tatanan sosial yang elu-elukan. Rimba, tergantikan dengan semen dan aspal. Rumah manusia semakin meluas, menyingkirkan rumah-rumah makhluk hidup dan unsur-unsur lainnya. Hingga air hujan pun susah sekali kembali ke tanahnya. Ribuan peringatan dari alam tak dihiraukan oleh manusia. Saya yakin, kita, generasi sekarang inipun sudah tidak peka dengan tanda-tanda alam. Apa arti burung burung yang terbang secara berkelompok dari laut ke darat, apa arti anjing yang melolong bersamaan, apa arti dari ikan-ikan yang secara misterius muncul di laut yang dangkal dan lainnya. Padahal dengan mengamati alam, manusia dapat mengetahui lebih dini akan adanya bencana dan dapat menyelamatkan hidup mereka.

Pada karya ini saya membuat gestur binatang yang kaki-tangan dan kepalanya merupakan kaki dan tangan dari manusia. Kenapa saya tak menyertakan kepala manusia di dalamnya? Karena binatang mencerminkan perasaannya dengan gerak dan perbuatan, bukan omongan (mulut).

Saya ingin mengajak anda untuk berimajinasi, apa rasanya ketika kita adalah binatang, atau kita menjadi binatang. Dimana hukum rimba menjadi satu-satunya keadilan. Siapa yang kuat, dia yang menang. Mungkin dengan cara seperti ini manusia dapat lebih baik memperlakukan binatang yang secara otomatis akan lebih baik memperlakukan alamnya.

Labels:


Itsnataini Rahmadillah

Latarbelakang dari karya ini adalah komunikasi. Saya tertarik untuk sedikit menyindir masalah komunikasi di zaman sekarang ini, dimana orang-orang terlalu banyak berkomunikasi, sehingga tidak jarang ada yang salah sambung antara satu dengan yang lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi merupakan salah satu pendukung komunikasi ini.
Pada karya ini, Saya menggunakan jenis telepon yang difungsikan sebagai telepon public. Saya tidak menggunakan handphone yang sudah benar benar dikenal pada masa sekarang karena handphone umumnya merupakan produk yang diciptakan hanya untuk personal. Jarang ada orang yang mau mengangkat handphone milik orang lain, karena handphone sifatnya pribadi.
Suara-suara yang terdengar ketika telepon diangkat, sebagian besar merupakan suara-suara yang menjelaskan bahwa anda tidak nyambung dan salah karena mengangkat telepon. Atau bisa juga si penelepon yang salah sambung. Intinya adalah miskomunikasi yang disebabkan oleh terlalu banyak komunikasi.
Pada karya ini saya menggunakan telepon yang diproduksi oleh perusahan PERUMTEL kira-kira pada tahun 60-an di Indonesia. Telepon ini bisa berdering dengan jarak waktu 3 menit sekali. Telepon tersebut harus diangkat agar kita dapat mendengarkan apa yang dikatakan si penelpon. Telepon ini memiliki memori card yang dapat menyimpan rekaman suara. Rekaman tersebut berfungsi seperti mesin penjawab telepon otomatis. Tetapi pada karya ini saya gunakan sebagai suara seseorang yang menelepon. Sehingga ketika telepon berdering dan diangkat akan terdengar sebuah suara orang yang menelpon. Suara-suara tersebut ada 10 macam, yaitu:

1.“Anda terhubung dengan mailbox, saya akan meninggalkan pesan untuk Anda mungkin dalam beberapa menit ke depan, setelah nada-nada berikut ini *tuuuuuut* Anda menutup telepon”
2.“Jumlah pulsa yang anda miliki adalah rupiah, Anda diharapkan untuk mengisi pulsa kembali setelah pesan-pesan saat ini.”
3.“Selamat datang, anda diminta untuk menutup telepon ini setelah nada-nada berikut ini… BlablablahblahblahBLAAH! Terimakasih.”
4.“Halo, selamat siang, saya dari kepolisian. Saya curiga bahwa anda adalah tersangka itu, anda diminta untuk datang ke pos satpam terdekat agar diperiksa dengan segera, agar kami segera medapatkan hasil yang pasti, terimakasih.”
5.“tut tut tut tut tut tut”
6.“Halo, HALO! HALO! HEH JANGAN ANGKAT TELEPON SEMBARANGAN DONG!”
7.“Telepon yang anda angkat… salah, silahkan mencoba beberapa saat lagi.”
8.“Hai, Anda berada di luar jangkauan, cobalah kembali beberapa saat lagi.”
9.“’a’uzubillahiminashyaitonirrojimbismillahirrahmanirrohim……. Shadaqawlahul’azim.”
10. “Are there any foods you used to eat that you don’t eat now?”



Labels:


I Wayan Upadana

Sepertinya bumi butuh alat pendingin saat ini.Apakah yang muncul dibenak kita ketika melihat sebuah benda?Kulkas yang pernah aku lihat memiliki bentuk segi empat, ada yang dua pintu maupun satu pintu saja, aku ingin menjadikannya sebuah karya seni, dengan fantasi yang muncul nantinya. Kulkas ini adalah cikal bakal karya, entah akan berganti material, atau bentuknya akan berubah menjadi sesuatu yang lain maupun bendanya direspon sesuai gagasan, hal tersebut masih mengalami proses.


Labels:


Maya Annisa Surya

Imej yang langsung terbaca pada karya ini yaitu sebuah remote control raksasa. Bentuk dan elemen yang terdapat pada karya ini, mirip dengan remote control sebenarnya, yakni terdapat tombol-tombol pada permukaan atas karya.

Tribute to Remote Control ini dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada remote control yang dibuat pertama kali dengan tujuan menghindari iklan komersil. Saat ini generasi muda sangat dipengaruhi oleh media, bentuk teknologi yang telah banyak disalah gunakan. Salah satu yang mempengaruhi perubahan tingkah laku dan gaya hidup adalah iklan komersil. Banyak mimpi yang dijual dalam sebuah iklan, membuat generasi muda saat ini sibuk mewujudkan mimpi semu itu dengan 'memakan' iklan mentah-mentah.Tugas remote control tadinya adalah untuk menghindari iklan-iklan komersil tersebut. Kita telah diberi banyak tombol (baca: pilihan) dalam sebuah remote control, yang berarti kontrol ada di tangan individu masing-masing, tinggal bagaimana kita memanfaatkan itu. Yang terjadi sekarang, hasil teknologi hanya digunakan manusia untuk menuruti nafsu malasnya saja. Sama halnya dengan remote control yang semakin menurun kegunaannya. Jadi jangan hanya salahkan media, karena individu memiliki kontrol dalam genggamannya masing-masing.

Labels:


Putriani Mulyadi


Moral kontemporer, sebuah paradigma yang tengah berlangsung dalam era sekarang. Istilah yang masih asing, namun apabila dikaji lebih dalam, maka akan kita temui aspek-aspek yang membuat kita tersadar betapa jaman sudah berubah, sudah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih mudah. Kemudahan ini berupa imbas dari perkembangan teknologi yang cukup pesat hingga memfasilitasi berbagai hal, sehingga menimbulkan habitat yang praktis.

Kemudahan-kemudahan ini yang saya pikir menyebabkan moral bangsa, terutama generasi muda, menjadi generasi yang cenderung mengikuti budaya popular. Mereka mengalami pengikisan moral, karena mereka terlanjur mengalami fasilitas yang sifatnya mempermudah. Sehingga mereka terbiasa hidup dengan pragmatis. Inilah yang saya anggap sebagai moral kontemporer bagi generasi muda.

Moral kontemporer ini sebenarnya juga tak lepas dari pengaruh media massa yang terus menerus memberikan provokasi atas kemudahan itu sendiri. Generasi muda secara tidak langsung menjadi pelaku konsumsi dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dalam jumlah banyak.

Salah satunya adalah fashion, bukan berupa kemudahan, namun berkaitan dengan budaya pop yang selalu berlangsung hingga saat ini. Hampir seluruh generasi muda, yang menjadi korban dalam penyebaran budaya pop, terlihat seragam dalam bentuk visual. Mereka menjadi konsumtif demi mencapai kepuasan diri. Dalam hal ini, mereka seperti kehilangan identitas, karena hanya mengikuti apa yang sedang diminati (atau sebut saja, sengaja diadakan agar diminati masyarakat).

Masalah tersebut lah yang menjadi latar belakang saya dalam membuat karya ini. Karya saya merupakan narasi personal atas masalah yang saya sebut dalam paragraf sebelumnya. Saya menyikapi fenomena tersebut secara abstain, tidak mengikuti arus atau tren yang berlangsung, namun juga tidak memamer-mamerkan identitas.

Karya saya berupa figur perempuan, telanjang, bertubuh kurus, dan gesturnya membungkuk dengan tangan menutup wajah. Teknik cetak resin, dengan finishing cat akrilik putih.

Figur ini merupakan perwakilan saya sebagai narator. Saya bersikap netral terhadap fenomena tren di kalangan masyarakat, terutama perempuan. Telanjang, sebagai bentuk representasi saya yang tidak memihak tren manapun. Ketelanjangan ini merupakan bahasa simbolis untuk menerjemahkan kenetralan saya yang tidak mengikuti tren fashion tersebut. Mengenai posenya yang menutup wajah dengan kedua tangan, lagi-lagi sebagai bentuk simbolis untuk membicarakan ketidak pedulian saya terhadap fenomena tersebut, menutup mata agar tidak melihat.


Labels:


Rifqi Sukma

Dua kebudayaan besar di dunia yaitu Timur dan Barat yang keduanya saling mempengaruhi, seperti diketahui bahwa masyarakat barat sangat menjunjung tinggi rasionalitas (segala sesuatu diukur melalui pendekatan panca indra dan empiris), sedang masyarakat timur menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, proses akulturasi ini memberikan dampak yang sama-sama kuat bagi keduanya, dari kacamata barat spiritual dianggap sebagai sesuatu yang kuno, eksotik, terbelakang, dan lainnya karena tidak bisa dipahami secara rasional, akhirnya dianggap “masih”’ mistis, klenik dan “belum” rasional, sedang bagi masyarakat Timur rasional menjauhkan mereka dari kehidupan spiritual atau ekstrimnya orang barat tidak percaya “Tuhan”, bagi orang Timur segala sesuatu tidak hanya diukur dari empiris, mereka percaya dengan adanya “energi” di luar panca indera yang memberikan kehidupan atau ruh, sehingga di dunia Timur banyak ritual-ritual dilakukan. Globalisasi mempertemukan dua kebudayaan tersebut, yang berdampak bagi masing-masing kebudayaan, baik positif maupun negative, orang-orang Barat banyak yang mengadopsi budaya Timur sebagai gaya hidup, mereka menggunakan spirit Timur dalam kesehariannya., misalnya: hampir 10 tahun ini ekspor kerajinan dari Indonesia bernuansa Timur meningkat, banyak orang Barat yang memeluk agama atau kepercayaan dari Timur, dan lainnya. Sedangkan orang Timur banyak mengadopsi budaya Barat, dari pakaian, ilmu pengetahuan, politik, gaya hidup, dan lainnya. Pertemuan tersebut secara tidak langsung memberikan dampak pada keduanya, orang Timur merasa resah jika kebudayaan Barat akan menghilangkan kebudayaan lokal Timur, begitu pula sebaliknya, akhirnya muncul sikap menerima tetapi menolak atau ambivalen, di satu sisi menguntungkan disatu sisi merugikan.

Hal itulah yang melatarbelakangi karya saya, kebudayaan Barat saya gambarkan dengan bath up, bath up bagi orang barat adalah tempat untuk mandi dan membersihkan tubuh, seiring perkembangan jaman, maka fungsi mandipun berkembang, mandi tidak lagi menjadi sebuah aktifitas yang menjemukan, kreatifitas muncul menjadikan mandi tidak hanya sebuah rutinitas diguyur air kemudian disabun terus dibilas, namun menjadi sebuah kegiatan rekreasi yang menyenangkan bagi sebagian orang, munculah ‘perlombaan” untuk menyediakan fasilitas mandi yang bagus dan nyaman di rumahnya, sehingga ketika memasuki ruang mandi maka seseorang bisa menikmati dan melakukan berbagai aktifitas, bisa berkumpul dengan keluarga, bisa menemui klien atau melakukan transaksi bisnis, dan lainnya. Seperti terjadi di kota-kota besar, banyak muncul gerai-gerai yang menawarkan jasa “memandikan” dengan fasilitas dan pelayanan yang memanjakan konsumen berdalih untuk kesehatan dan kecantikan. Mandi akhirnya menjadi sesuatu yang menunjukan status sosial seseorang.

Sedangkan kebudayaan Timur saya gambarkan dengan koin China, Awalnya koin china (I Ching) adalah alat tukar atau berfungsi sebagai mata uang, seiring dengan perkembangan jaman maka fungsinya bergeser menjadi sebuah symbol kekayaan, kemakmuran dan keberuntungan, oleh masyarakat china kemudian dipergunakan sebagai hadiah pada acara perkawinan, tahun baru china, dan acara lainnya, bentuknya yang bundar dan terdapat kotak ditengah yang berlobang merupakan representasi dari langit dan bumi yang menyimbolkan keseimbangan dan keselarasan. Orang percaya bahwa koin ini akan membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi pemiliknya.

Saya membayangkan Globalisasi bagaikan sebuah sofa (tempat duduk) yang bergerak, dan setiap orang boleh duduk dan menikmati diatasnya. Maka saya membuat sebuah sofa dari bath up dengan kaki koin china yang berbentuk roda, Ini adalah proses perputaran dan pejalanan sebuah kebudayaan dunia, antara Barat dan Timur keduanya saling mengisi dan melengkapi, saling dipengaruhi dan terpengaruh, saling menguntungkan dan merugikan, yang keduanya berjalan bersama-sama seimbang…., mau dibawa kemanakah perputaran roda tersebut?

Labels:


Toto Nugroho

Latarbelakang dari karya ini adalah bicara tentang elemen sebuah system. System dapat berjalan dengan sempurna jika ada 3 elemen yaitu aturan, kekuasaan, pelaku aturan. Dari 3 element tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan, yang kemudian elemen-elemen disusun untuk membentuk suatu bentuk tertentu dengan performance merakit puzzle. Dan system akan membutuhkan suatu wadah, yang kemudian saya ambil image rumah, dengan alasan untuk mewakili wadah atau tempat tersebut. Ketika berada di dalam system dalam kondisi suka ataupun terpaksa kita harus patuh terhadap system tersebut (baca; mainstream).

Karya ini akan menggunakan bahan dari teak blok yang memakai system knockdown. Rumah ini merupakan stimulant untuk karya berikutnya. Bisa juga material atau bentuknya akan berubah menjadi sesuatu yang lain sesuai dengan proses pengembangan gagasan ketika karya telah di bawa ke ruang publik.

Labels:


PASUKAN BUMI

Saya dengar nama Pasukan Bumi ini dari Toto, salah satu personelnya. Waktu dengar pertama memang agak aneh, kedengaran mirip Laskar Pelangi yang waktu itu masih belum populer. Atau kelompok ekstrim pecinta alam yang bekerja membela bumi mati-matian.. Kelompok seni rupa kok namanya Pasukan Bumi. Apalagi ketika Toto mengutarakan idenya untuk mengajak dua 'kubu' seniman muda dari Bandung dan Jogjakarta dalam kelompok ini. Wah, ini pasti tidak akan jauh-jauh dari 'isu urban', secara mereka memang anak-anak muda. Saya menduga pasti akan jauh melenceng dari nama Pasukan Bumi yang lebih mirip nama kelompok pecinta alam itu.

Terus saya bertemu dengan Toto, Rifqi, dan Wayan, sebagai anggota Pasukan Bumi yang berdomisili di Jogja. Konsep awal mereka, mereka mempunyai beberapa seni rupa berjenis 'objek' dan beberapa rancangan karya seni rupa yang di luar kebiasaan mereka. Dengan materi ini, mereka ingin mengerjakan sebuah projek yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu kami membicarakan kemungkinan mereka membuat projek di luar ruang. Tentu saja, projek ini akan bersinggungan dengan ruang-ruang terbuka yang diakses oleh siapa saja (ruang publik). Dengan ini, materi yang akan mereka bawa, akan mengalami interaksi dan respon apapun dari para pengguna ruang terbuka yang lain, seperti pejalan kaki, pengendara motor, dan sebagainya. Ini yang kemudian kami diskusikan. Saya melihat tidak ada kaitam langsung projek ini dengan isu-isu lingkungan kontemporer, seperti global warming dan semacamnya, tapi ya tetap saja ada urusannya dengan lingkungan. Mereka mempunyai cara sendiri untuk melihat isu lingkungan dengan kacamata mereka sebagai anak muda yang tumbuh dan bekerja di kota semacam Bandung dan Jogja ini. Lama-lama saya merasa nama ini cukup unik juga untuk melihat kelompok ini dan respon mereka terhadap isu lingkungan. Mereka adalah anak-anak muda yang dibesarkan dalam lingkungan akademik kampus setelah angakatn 98 yang bertensi politik tinggi. Dalam generasi mereka, isu-isu besar tidak lagi ditanggapi dengan kemarahan dan kekerasan, tetapi ditanggapi dengan melihat apa yang dekat dengan keseharian mereka. Untuk itu, saya merasa perlu untuk melihat materi karya awal mereka yang diajukan dalam proposal projek ini.

Kami lalu melihat bersama materi karya-karya yang sudah ada. Kelompok ini unik karena mereka hanya berdiskusi via online dengan para teman-temannya di Bandung. Dan konon, sebelumnya mereka belum bertatap muka secara langsung. Tentunya dengan kondisi seperti itu, karakter kelompok ini tidak bisa disatukan begitu saja dengan gagasan yang tertentu. Setelah cukup lama berdiskusi, saya melihat ada satu hal yang sama yang coba mereka utarakan dalam bentuk-bentuk karya mereka. Yaitu penggunaan benda-benda domestik ataupun citra-citranya. Dari benda-benda yang biasanya berada di dekat kita secara pribadi, seperti remote kontrol, bath tub, lemari es, gaun, telepon, dan bulu, akan dibawa ke ruang publik. Ide seseprti itu pulalah yang kebanyakan lagi mereka asyiki saat ini. Jadilah sebuah projek yang dinamai “Invasi Objek Privat”. Projek ini dilangsungkan di Jogja dan juga Bandung. Di Jogja mereka melakukan serangkaian program, mulai dari launching acara di IVAA, presentasi, dan dilanjutkan dengan menyatroni ruang-ruang publik di beberapa titik di Jogjakarta.

Proses membawa karya ke publik menjadi cukup 'aneh' untuk sebuah acara seni rupa luar ruang. Mereka tidak dalam tatacara mengerjakan patung publik (walaupun kebanyakan karya mereka tiga dimensional). Apalagi kalau dibandingkan dengan patung-patung pahlawan yang menghiasi tempat-tempat utama di kota-kota besar kita. Tidak ada pretensi yang semacam itu, misalnya monumental atau secara gigantis menyentak padangan mata pengguna jalan. Karya-karya mereka berupa objek-objek kecil dan sedang (yang terbesar paling-paling dua meteran), dan secara bobot sangat ringan dan kadang-kadang membutuhkan interaksi dengan penggunanya untuk dikenali keberadaannya.

Ini yang kemudian sempat dikhawatirkan oleh kurator seni Suwarno Wisetrotomo yang menjadi pembuka launching projek ini. Beliau mengkhawatirkan ke'efektif'an karya-karya ini ketika berada dalam luar ruang (atau ruang publik). Jangan sampai karya-karya itu hanya memindahkan sebuah karya dari dalam galeri ke luar ruangan, demikian wejangannya kala itu.

Dari sinilah, justru pandangan itu diabaikan sama sekali oleh anak-anak muda ini. Mereka bukanlah sekelompok seniman yang concern secara khusus pada seni ruang publik. Di karya-karya ini, mereka melakukan eksperimen menghadirkan karya dalam habitat yang tidak sewajarnya, misalnya membawa pesawat telepon ke sebuah lapangan. Atau memakai pakaian berbentuk remote kontrol di trotoar. Atau sebentuk patung burung onta berkaki manusia di alun-alun. Kemudian yang mereka kejar adalah reaksi dan respon dari masyarakat lain pengguna ruang-ruang itu.

Mereka tidak mempersolkan secara serius problem display sebagaimana karya-karya luar ruang konvensional. Apakah nyambung dengan lingkungan sekitar atau tidak itu nomer kesekian. Bagi kelompok ini, karya seni menjadi ibarat manusia pengguna ruang publik, yang bisa masuk dan keluar dari ruang itu dengan sesukanya, walaupun ada syarat-syarat dan aturan-aturan tertentu di masing-masing ruang. (salah satunya mereka alami ketika akan membawa sebuah patungnya ke dalam bus TransJogja, mereka mendapat larangan dari sopir bus tersebut). Mereka menenteng karya-karya itu ke beberapa titik di seantero kota Jogja. Karya-karya itu menjadi karya-karya yang mobil, dan bercengkerama dengan masing-masing pengguna ruang publik. Reaksi itulah yang kemudian mereka dokumentasikan dalam karya-karya berikutnya.

Projek pameran ini adalah salah satu rangkaian kelanjutan dari seluruh projek Invasi Objek Privat. Mereka kemudian mengembalikan karya-karya itu ke 'kandangn'ya di sebuah galeri seni (Roomate). Projek pameran ini sekaligus report dan dokumentasi kerja lapangan mereka dalam sebuah presentasi seni rupa. Untuk itu, dalam pameran ini mereka menyertakan tinggalan jejak dari apa yang mereka bawa ke ruang publik. Dokumentasi foto, lukisan, jejak-jejak karya, bekas-bekas respon publik, mereka pajang dalam ruang galeri. Di samping itu, karya-karya baru juga ditampilkan sebagai laporan apa yang kemudian mereka rasakan dan alami ketika mereka menghadirkan karya-karya mereka di luar ruang.


RAIN ROSIDI

Labels:


Privat X Publik, Personal X Publik

Semangat untuk mendekatkan jarak antara seni dan masyarakat sudah dimulai sejak tahun 1960an di Amerika. Semangat ini dipicu oleh gerakan postmodern pada saat itu yang merupakan sebuah manifestasi kritik terhadap apa yang selama ini dipercayai dalam modernisme atau lebih spesifik seni modern yaitu seni yang otonom dan memiliki nilai orisinalitas. Seni modern akhirnya dinilai sebagai seni yang elite yang terpisah dari masyarakat. Seniman diposisikan sebagai seseorang yang seolah terpisah dari tanggung jawab terhadap lingkungan masyarakatnya. Satu kecenderungan yang kuat pada tahun-tahun tersebut adalah dekonstruksi terhadap apa yang selama ini dipercayai oleh modernisme. Berkembang semacam semangat untuk mendekatkan atau menghilangkan jarak antara apa yang disebut ‘fine’ – sesuatu yang halus, tinggi, merupakan konsumsi intelektual hanya bagi beberapa orang dari golongan tertentu saja, dengan apa yang disebut ‘vernacular’ atau sesuatu yang biasa, hal yang sehari-hari. Sebuah semangat untuk menghilangkan jarak antara seni yang ‘tinggi’ dan seni yang ‘rendah’, untuk menolak bahwa seni memiliki nilai kebenaran yang intrinsik dan substansial, bahwa keindahan adalah sesuatu yang esensial bagi seni.

Postmodernisme percaya bahwa seni memiliki nilainya karena sebuah konstruksi.

Ia dapat bernilai bergantung pada bagaimana dan dimana ia ditempatkan. Salah satu yang karya yang cukup fenomenal pada saat itu adalah “Brillo Box” karya Andy Warhol, dibuat dan dipamerkan tahun 1964. “Brillo Box” merupakan apropriasi bentuk kemasan produk alat pembersih yang dibuat untuk membersihkan perangkat aluminium. Terbuat dari plywood dengan logo “Brillo” yang dicetak dengan teknik silkscreen. “Brillo” sendiri merupakan nama dari produk tersebut. Tahun tersebut sulit bagi kebanyakan orang untuk menerima itu sebagai sebuah karya seni. Karya ini menjadi semacam pintu bagi pemikiran-pemikiran lebih lanjut tentang tentang makna dan nilai sebuah karya seni, bagaimana sebuah objek dapat memiliki status karya seni (work of art). Pop art saat itu telah mencairkan batasan tentang apa yang bisa diterima sebagai benda seni dan non-seni yang dalam wacana seni rupa kontemporer dikenal dengan istilah “anything goes”. Dalam seni rupa kontemporer atau bisa dikatakan seni yang ada saat ini pada masa sekarang, merupakan sebuah objek kontingen. Artinya adalah dia dapat memiliki makna berdasarkan sebuah konstruksi tertentu. Maksud dari kontingen dapat diartikan bahwa seni baik itu berupa aktivitas atau objek (work of art) dapat mengandung pesan yang tersembunyi atau terselubung (hidden messages) yang membutuhkan sebuah penjelasan atau mediasi. Dalam berbagai bentuk mediasi inilah kita mengenal istilah strategi berkesenian atau politik kesenian atau juga seni yang politis. Politis bukan hanya berarti bahwa seni dapat merepresentasikan isu sosial dan politik, tetapi bahwa seni menjadi sangat politis dalam konstruksi visual yang diciptakan didalamnya, sebuah politik visual. Maka seni menjadi bermakna jika diposisikan atau ditempatkan di dalam suatu kondisi yang tepat, dalam ruang waktu tertentu, dan termasuk juga berhadapan dengan publik yang tepat yaitu publik seni itu sendiri. Dengan demikian menilai dan memaknai seni menuntut perspektif dan cara pandang lain diluar praktek seni itu sendiri. Makna atau nilai dalam seni (value of art) dalam tingkat tertentu dapat menjadi relatif tetapi bukan berarti tidak memiliki nilai.

Menilai keterbacaan teks dalam sebuah karya seni dihadapan publik, bergantung pada konsep yang kita sepakati bersama tentang apakah dan siapakah sebenarnya publik seni. Jika kita menyinggung istilah ‘publik’ dari perspektif yang sangat umum dalam membicarakan seni, saya yakin kita akan dengan sangat mudah kehilangan konteks pembicaraan. ‘Publik’ sering kali adalah sesuatu yang tidak jelas batasannya sama hal nya seperti ketika kita mendengar kata masyarakat. Masyarakat atau publik bisa siapapun dan dimana pun, bahkan dapat terlepas dari konteks ruang dan waktu. Dalam pandangan saya ini sering kali menjadi jebakan ketika seniman atau praktisi seni berusaha untuk menyinggung pesoalan bagaimana seni dapat menjadi dekat dan tidak berjarak dengan masyarakat. Seringkali kita lupa memperhitungkan siapakah masyarakatnya apabila kita berbicara mengenai sebuah praktek seni yang tidak berjarak dengan masyarakat atau publik. Apalagi jika karya seni tersebut dipercaya memiliki pesan bagi masyarakat.

Publik seni dalam hemat saya adalah suatu kelompok yang terbatas tetapi juga terbuka. Terbatas dalam arti bahwa publik seni adalah orang-orang yang telah terlebih dulu memiliki sebuah prakonsepsi atau prakondisi tentang praktek seni itu sendiri, yang tentunya ada dalam berbagai tingkatan. Terbuka, berarti juga bahwa siapapun tanpa terbatas dapat mengapresiasi karya seni atau bahkan menyerap semua kandungan makna yang diikhtiarkan oleh seniman atau praktisinya. Sebuah platform dapat saya katakan, dan sebuah strategi haruslah terlebih dahulu dibangun dan dirancang sebelum pesan dalam karya seni tersebut di-mediasi-kan. Jika tidak, maka seni tetap tidak dapat sepenuhnya menjadi tidak berjarak dengan masyarakat. Ia sebagai sebuah praktek akan tetap memiliki wilayah yang berjarak dengan publik. Hal ini berlaku tentunya pada karya-karya yang besifat ‘eksperimental’ dengan metode dan modus yang tidak lazim dalam konsepsi seni yang sudah mapan. Berbeda halnya ketika kita berhadapan dengan lukisan atau patung tentunya yang sudah lebih dulu dikenal secara mapan sebagai bentuk kesenian.

Tulisan ini dibuat meresponi tema yang digagas oleh sekelompok perupa muda ini, yaitu tentang bagaimana ruang publik menginvasi ruang privat, dan bagaimana bagi mereka seni dapat menjadi sebuah ‘serangan’ balik untuk menginvasi ruang publik tersebut. Sebuah gagasan yang dapat di elaborasi lebih jauh menjadi sebuah proyek kesenian yang menarik, walaupun mereka belum secara spesifik dan tegas menentukan ruang publik seperti apa yang dianggap menginvasi tersebut. Mengingat dewasa ini kita menghadapi sebuah pengertian yang relatif bahkan semu tentang konsep ruang, sesuatu yang privat dan publik.

Dalam suatu masyarakat dimana teknologi informasi merupakan nafas yang menghidupkan dinamika kota, agak sulit mengartikan dan memahami konsep ruang. Pengertian ruang sering tumpang tindih antara ruang fisik dan ruang maya atau virtual. Saat ini konsep ruang secara fisik sudah sedemikian didominasi oleh konsep ruang virtual atau maya. Bagi beberapa oran di kota-kota besar, tampak seperti ruang fisik seolah tidak menjadi sesuatu yang utama lagi. Manusia-manusia kota besar ‘haus’ akan pengalaman ruang dunia maya. Kemampuan teknologi untuk dapat menggandakan citra diri kita berikut ruang tempat kita hidup, membawa kita masuk dalam sebuah dunia simulasi (simulacrum) meminjam istilah Jean Baudrillard.

Simulasi yang mengaburkan pengertian kita akan apa yang nyata dan fantasi, tentang apa itu privat dan publik. Tampak seolah tidak ada lagi perbedaan yang tegas antara privat dan publik. Sesuatu yang bersifat privat atau pribadi bisa disaat yang bersamaan menjadi informasi publik. Kesadaran akan sesuatu yang privat atau personal dan publik sendiri merupakan kesadaran yang muncul dalam hidup orang-orang perkotaan baik itu disadari atau tidak. Kesadaran itu sendiri merefleksikan bagaimana individu dipisahkan dengan kelompok kolektif, subjek dengan objek. Sebuah alienasi dalam tingkat tertentu.

Seni rupa kontemporer sebagai sebuah model representasi merupakan sebuah praktek yang plural. Pluralitas ini membuat seni menjadi sangat menarik karena kapasitasnya untuk dapat merepresentasikan berbagai persoalan hidup. Tetapi tetap hal ini disatu sisi menjadi sebuah tantangan bagi perupa. Ketika perupa dihadapkan dengan sebuah persoalan yang harus dipahami dan juga dengan strategi untuk mengeksekusi gagasan kesenian mereka. Dalam tahun-tahun terakhir seni rupa Indonesia telah banyak diwarnai oleh karya-karya seni yang sarat dengan narasi personal yang bagaimanapun tetap menarik dalam praktek seni. Tetapi hal ini bagi saya dapat dikatakan melemahkan sensibilitas perupa dalam menangkap persoalan disekitar. Sehingga subject matter yang hadir dalam banyak karya sering kali menjadi kurang beragam dan menarik karena melulu menyoal narasi personal. Saya membayangkan seolah perupa berkarya dalam sebuah jarak yang cukup besar dengan lingkungan mereka, tempat dimana terletak berbagai macam subject matter yang menarik itu dibicarakan dalam seni. Dalam beberapa kesempatan perupa menjadi sangat naïf terhadap persoalan yang dihadapi. Seolah tidak banyak hal yang bisa ditampilkan dalam seni, sedangkan pada kenyataannya banyak sekali disekitar kita hal yang dapat menjadi subjek menarik dalam karya.

Persoalan yang diangkat melalui proyek pameran ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang menarik sebagai sebuah tema. Tetapi tetap hal ini bergantung pada bagaimana sikap setiap perupa mengeksekusi gagasannya masing-masing. Mencoba untuk menginterpretasi proyek seni ini, bagi saya masih tampak ada jarak yang cukup lebar antara individu perupa dengan persoalan yang dicermati. Jika memang yang ingin disasar adalah kesadaran akan biasnya pengertian tentang apa yang privat dan publik, pesoalan privat dan publik barangkali perlu dibuat sedikir lebih spesifik. Sehingga tanda-tanda yang pada akhirnya dikonstruksi dalam karya tampak terlihat naif, seolah merujuk kepada gagasan atau narasi personal. Tetapi gagasan untuk melakukan proyek seni ini di tempat umum untuk kemudian dipresentasikan dalam sebuah pameran merupakan sesuatu yang menarik. Dengan elaborasi lebih lanjut proyek ini dapat menjadi sebuah proyek site spesifik yang menarik yang jarang kita lihat dilakukan oleh perupa di Indonesia.

Sebagai kesimpulan, berkaitan dengan praktek seni yang plural dimana seharusnya tidak ada jarak antara seni dan masyarakat, dimana apapun dapat menjadi seni dan direpresentasikan melalui seni, maka diperlukan sensibilitas seorang perupa yang kuat dalam memahami dua wilayah yaitu wilayah luar dimana terdapat persoalan dan wilayah dalam dimana perupa bergelut dengan media, startegi dan modus visual. Akhirnya adalah tantangan bagi seorang perupa untuk menjadi seorang observer yang cukup tajam dalam melakukan ‘riset’ untuk memahami persoalan secara mendalam, berikut juga tantangan untuk menemukan bahasa visualnya sendiri terutama saat ini setiap perupa dihadapkan dengan apa yang dapat disebut ‘fashion’ dalam seni rupa kontemporer.

Albert Yonathan Setyawan,

Bandung, 28 Desember 2008

Labels: